Beban kerja Pemilu serentak terlalu berat

id evaluasi pemilu

Ketua KPU NTT, Thomas Dohu (kiri) dan Juru Bicara KPU NTT, Yosafat Koli (kanan) sedang menyimak sesuatu menjelang rapat. (ANTARA FOTO/Bernadus Tokan)

Ketua KPU Nusa Tenggara Timur Thomas Dohu mengatakan, pemilu serentak 2019 merupakan Pemilu paling rumit dengan beban kerja yang sangat berat.
Kupang (ANTARA) - Ketua KPU Nusa Tenggara Timur Thomas Dohu mengatakan, pemilu serentak 2019 merupakan Pemilu paling rumit dengan beban kerja yang sangat berat.

"Pemilu 2019 juga kurang memberi kepastian hukum, di mana aturan selalu berubah, bahkan baru diatur mendekati hari "H" pemungutan suara," kata Thomas Dohu kepada Antara di Kupang, Selasa (23/4).

Dia mengemukakan hal itu, ketika dimintai pandangannya seputar pelaksanaan pemilu serentak 2019, yang dinilai berbagai kalangan sebagai pemilu paling rumit.

"Sebagai penyelenggara, kami mengakui bahwa pemilu serentak 2019 paling rumit karena beban kerja terlalu berat, jauh melebihi kapasitas seseorg dalam bekerja," katanya menambahkan. 

Sementara itu, juru bicara KPU NTT Yosafat Koli mengusulkan agar pelaksanaan Pemilu serentak sebaiknya dilakukan dalam dua tahap agar beban kerjanya terasa lebih ringat.

Menurut dia, pemilu serentak pertama dilaksanakan untuk memilih presiden dan wakil presiden, anggota DPR-RI dan DPD, sedangkan pemilu serentak kedua dilaksanakan untuk memilih anggota DPRD provinsi dan kabupaten/kota serta gubernur, wali kota dan bupati.

Baca juga: Pemilu serentak 2019 perlu dievaluasi

"Memang rumit karena terlalu banyak jenis pemilu yang kita urus, sehingga terasa lebih elegan jika dipisahkan," katanya.

"Jadi kita bisa melaksanakan dua kali pemilu serentak, karena satu kali terlalu banyak, dan membuat petugas sangat kelelahan, karena bekerja lebih dari 24 jam," tambahnya.

Selain itu, sistem pemilu juga harus disederhanakan lagi, administrasi juga demikian.

"Hari ini, setelah rekapitulasi hasil pemilu, petugas KPPS harus menyalin ulang. Butuh waktu lama, sehingga para petugas bekerja tanpa istirahat," katanya.

Dia berharap, pengalaman dalam pelaksanaan pemilu serentak 2019 ini dapat menjadi bahan kajian bagi para pengambil kebijakan, agar pemilu-pemilu ke depan bisa lebih sederhana. 

Baca juga: Revisi UU Pemilu bukan solusi sederhanakan pemilu
Baca juga: Pemilu sederhana tumbuhkan kualitas demokrasi
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar