Asita sebut permintaan paket wisata di NTT masih lesu

id NTT,ASITA NTT,Paket wisata,pariwisata NTT

Asita sebut permintaan paket wisata di NTT masih lesu

Ketua DPD ASITA Provinsi Nusa Tenggara Timur, Abed Frans. (ANTARA/HO-DPD ASITA NTT)

Sekarang permintaan paket wisata untuk NTT masih lesu karena pintu masuk wisatawan asing ke Indonesia belum dibuka
Kupang (ANTARA) - Ketua Asosiasi Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Nusa Tenggara Timur (NTT) Abed Frans mengatakan permintaan paket wisata dari luar ke provinsi tersebut masih lesu, meskipun sudah memasuki adaptasi kebiasaan baru di tengah pandemi COVID-19.

"Sekarang permintaan paket wisata untuk NTT masih lesu karena pintu masuk wisatawan asing ke Indonesia belum dibuka," katanya ketika dihubungi di Kupang, Senin, (12/10).

Ia mengatakan hal itu berkaitan dengan kondisi terkini pasar wisata di NTT sejak diberlakukan adaptasi kebiasaan baru pada Juni 2020.

Ia mengatakan banyak grup operator tur mengeluh karena pintu masuk atau border untuk wisatawan mancanegara belum dibuka, sehingga belum ada geliat kunjungan wisatawan di daerah-daerah, termasuk NTT.

"Wisatawan asing yang bisa berkunjung di lokasi wisata saat ini bisa jadi para ekspat (pekerja asing atau orang asing) yang memiliki kartu izin tinggal terbatas/tetap (KITAS)," katanya.

Oleh karena itu, lanjut dia, para pelaku industri wisata berharap agar pemerintah segera membuka pintu masuk dan membolehkan wisatawan asing masuk ke Indonesia.

"Mengenai protokol pencegahan COVID-19 tentunya pasti harus dipenuhi oleh semua wisatawan itu," katanya.

Baca juga: Geliatkan kembali pariwisata, NTT gelar tur bersepeda

Baca juga: Permintaan paket wisata di NTT dari mancanegara mulai masuk


Sementara untuk kunjungan wisatawan domestik ke NTT, lanjut Abed Frans, sudah mulai membaik pada Agustus 2020 lalu. Artinya, kata dia, sudah mulai ada beberapa permintaan paket tur ke NTT.

Namun demikian, kata dia, pemberlakuan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta dan akses di Bali yang belum sepenuhnya dibuka, menyebabkan kembali terjadi pembatalan perjalanan wisata ke NTT.
Pewarta :
Editor: Bernadus Tokan
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar